Buang Kebanggaan Demi Uang Deretan Kasus Match Fixing di Ranah Esports

Posted on

Buang Kebanggaan Demi Uang Deretan Kasus Match Fixing di Ranah Esports – Dalam Esports sendiri, ada sisi kelam yang disebut dengan Match Fixing. Dimana para pemain biasanya bertaruh besar di situs judi untuk para lawan mereka. Hal ini demi menguntungkan diri mereka sendiri. Rela membuang kebanggan dan kemenangan, para pemain ini memilih untuk mementingkan dirinya sendiri. Hasilnya, tentu saja beberapa orang terkena hukuman larangan bermain. Bahkan ada beberapa organisasi yang terkena suspend.

Buang Kebanggaan Demi Uang Deretan Kasus Match Fixing di Ranah Esports

Kru KotGa mencoba merangkum beberapa kasus Match Fixing yang cukup menghebohkan. Mulai dari kasus 322 dari pemain bernama Solo, Tim Mahameru asal Indonesia, hingga yang paling baru yaitu Newbee. Apa saja. Alexei Berezin atau yang lebih dikenal sebagai “Solo” merupakan pemain bertalenta asal Rusia. Kapten dan salah satu Support terbaik ini sempat tersandung kasus pengaturan skor di tahun 2013 pada ajang Starladder.

Saat itu, Solo ketahuan membiarkan timnya, Rox, untuk kalah dari zRage sebagai tim underdog yang tentu punya kapasitas permainan di bawah tim Rox saat itu. Tim Starladder melakukan investigasi dan menemukan fakta bahwa Solo memenangkan 322 dolar di sebuah situs judi. Solo sempat diisukan mendapat pelarangan main di Starladder seumur hidup. Untungnya Starladder mencabut larangan tersebut dan Solo kiprahnya semakin cemerlang bersama Virtus Pro.

Starcraft 2 sudah terlebih dahulu menjadi sebuah game esport yang cukup besar, dan peluang bisnis untuk meraih keuntungan dalam game ini memang sangat menggiurkan. Pada tahun 2010, sebuah situs taruhan mendekati beberapa gamer profesional Starcraft 2 dan menawarkan mereka untuk mengatur pertandingan (match fixing), dan juga kesempatan bertaruh pada hasilnya. Salah satu pemain yang terkena skandal ini adalah Lee Seung-Hyun atau yang lebih dikenal dengan Life. Saat masih muda, dirinya tersandung kasus satu ini.

Mahameru adalah salah satu tim Indonesia yang sempat mengikuti ajang Joindota League 2015

Di antara kelima pemain, tiga pemain terbukti memasang taruhan untuk lawan mereka dan mengalah di dalam game. Investigasi yang dilakukan oleh Joindota mengemukakan kalau dua dari pemain Mahameru, yakni SPACEMAN dan Oclaire terbukti memasang taruhan ke arah lawan. Karena mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf kepada komunitas, tim Mahameru serta para pemain yang terlibat dihukum untuk empat musim atau sekitar satu tahun penyelenggaraan Joindota dan turnamen yang mereka selenggarakan.

Pada Februari 2020 lalu, pertandingan Newbee melawan Avengerls memang menjadi sorotan. Namun, tidak ada yang tahu bahwasanya kasusnya akan berakhir seperti ini. Beberapa orang mengatakan hal ini adalah match fixing termasuk legenda Dota 2 Tiongkok, xiao8. Dirinya berkelakar bahwasanya dirinya akan memakan kotorannya sendiri jika hal ini bukan Match Fixing. Hasilnya? DAA selaku organisasi esports tertinggi Tiongkok memberikan hukuman ke Newbee. Bahkan mereka dilarang bermain selamanya.

Pada Januari 2015, enam pemain dan pemilik tim iBuyPower mendapat hukuman larangan bermain setelah terbukti bersalah atas dugaan pengaturan skor di turnamen CEVO Professional Season 5. Menariknya, tindakan tak sportif ini terungkap gara-gara investigasi yang dilakukan Richard Lewis sang jurnalis Dot Esports. Bahkan, salah satu pemainnya dengan nickname ShaZham tertangkap basah dengan bukti chat yang mengatakan bahwa iBuyPower akan mengalah.

Skandal pengaturan skor juga pernah terjadi di wilayah Amerika Latin. Tim asal Peru yaitu Elit Wolves

Harus dibubarkan karena masalah tersebut. Kejadian itu terjadi pada tahun 2016 saat turnamen Pro Dota Cup berlangsung. Tim Elite Wolves berjumpa dengan Infamous untuk memperebutkan peringkat ketiga dalam turnamen. Pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar USD 500 atau sekitar 7,5 Juta Rupiah sementara pihak yang kalah pulang dengan tangan kosong.

Pada website judi online tentu saja lebih tim Elit Wolves difavoritkan bakal memenangkan pertandingan dari pada musuhnya. Namun secara mengejutkan malah Infamous-lah yang memenangkan permainan. Setelah ditelusuri ternyata tim Elite Wolves bertaruh kepada Infamous dan memenangkan uang sebesar USD 3.000 atau sekitar 45 Juta Rupiah dalam judi online.

Ddz dan Lance merupakan pemain yang mencoreng Dota 2 Asia Tenggara akibat match fixing yang mereka lakukan. Insiden ini terjadi turnamen Synergy SEA pada saat mereka membela Arrow Gaming. Keduanya ketahuan melakukan match fixing dengan alasan membutuhkan uang dan diberikan larangan seumur hidup bermain di turnamen DPC oleh Valve pada tahun 2014. Tidak hanya mereka, ternyata seluruh roster Arrow Gaming terbukti melakukan hal yang sama dan juga mendapatkan ban.

Ddz dan Lance saat ini hanya mengikuti turnamen non-DPC dan turnamen tier 2 yang ada di Asia Tenggara. Mereka tergabung bersama Flower Gaming bersama YamateH dan juga rekan setimnya saat di Arrow Gaming, MozuN. Meskipun begitu, prestasi mereka di turnamen tier 2 tidak bisa dianggap enteng. Mereka beberapa kali mendapatkan juara dan posisi runner-up ketika bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *